Kolom DPS: Media Dakwah dan Kajian Fikih Muamalat

Mengapa Hidup Harus Bersyariah?

Artikel ditulis oleh : Bapak Dr. H. Sukarni, M.AG (Dewan Pengawas Syariah PT. BPRS Barkah Gemadana)

Banyak orang menilai lembaga keuangan syariah hanya dari kacamata angka, seperti berapa keuntungannya, berapa banyak nasabahnya, seberapa cepat berkembang, dan bagaimana perbandingannya dengan bunga di bank konvensional. Penilaian seperti ini wajar secara logika ekonomi, apalagi bank konvensional sudah berdiri jauh lebih dulu.

Bank pertama di Indonesia, BRI, lahir pada 16 Desember 1895, sedangkan bank syariah pertama, PT Bank Muamalat Indonesia Tbk, baru berdiri 1 November 1991. Ada jarak hampir seabad. Waktu yang panjang ini membuat masyarakat sudah terbiasa dengan sistem konvensional, sehingga ketika syariah hadir, ia sering diukur dengan standar lama yang bahkan berasal dari sistem yang justru ingin dihindari.

Padahal, "bersyariah" bukan sekadar label atau perbedaan akad. Syariah secara bahasa berarti jalan yang luas dan lurus, jalan yang memudahkan manusia sampai pada tujuan dengan selamat. Dalam konteks keuangan, bersyariah berarti seluruh aktivitas transaksi dilakukan sesuai aturan Allah dan Rasul-Nya, bukan sekadar meminimalisir dosa, tetapi meniatkannya sebagai ibadah untuk mencari ridha-Nya. Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا ادۡخُلُوۡا فِى السِّلۡمِ کَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوۡا خُطُوٰتِ الشَّيۡطٰنِ​ؕ اِنَّهٗ لَـکُمۡ عَدُوٌّ مُّبِيۡنٌ‏

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh), dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan." (QS. Al-Baqarah: 208)

Di sinilah letak perbedaan mendasarnya. Ekonomi syariah memiliki variabel yang tidak terdeteksi oleh panca indera, salah satunya adalah berkah. Berkah bukan sekadar keuntungan materi, melainkan kebaikan yang terus bertambah, berkelanjutan, dan membawa manfaat yang luas, meski kadang tak terlihat di laporan keuangan. Imam Asy-Syafi'i rahimahullah mengatakan,

“Tidak ada keberkahan pada harta yang dihasilkan dari cara yang haram, walaupun ia banyak.”

Berkah adalah karunia dari Allah yang tidak terbatas, sehingga tidak bisa diukur dengan angka. Allah memerintahkan,

فَاِذَا قُضِيَتِ الصَّلٰوةُ فَانْتَشِرُوْا فِى الْاَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Apabila shalat (Jum'at) telah dilaksanakan, bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)

Inilah makna sejati dari mencari rezeki. Bukan sekadar memperbanyak nominal, tapi mengundang karunia yang membawa kebaikan di dunia dan akhirat. Inilah pula mengapa banyak lembaga keuangan syariah memilih nama yang mengandung doa, seperti “Barkah” yang berarti limpahan kebaikan ukhrawi, dan "Gemadana" yang berarti harta yang berlipat sebagai bentuk kebaikan duniawi.

Tidak semua yang terlihat berhasil secara materi berarti diridhai Allah. Ada yang hartanya melimpah, usahanya berkembang, tetapi sejatinya itu adalah istidraj, yaitu pemberian nikmat yang justru menjadi jalan kehancuran. Rasulullah ﷺ bersabda: 

“Apabila engkau melihat Allah memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba padahal ia bergelimang dalam maksiat kepada-Nya, ketahuilah bahwa itu adalah istidraj.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban).

Sebaliknya, ada orang yang diuji kesempitan ketika berusaha kaffah menjalankan Islam, termasuk dalam urusan finansial, demi menjaga diri dari yang haram. Ujian ini adalah tanda perhatian Allah, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: 

“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung besarnya ujian. Apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka.” (HR. Tirmidzi)

Aturan syariah itu sendiri adalah ujian. Sebagaimana orang tua yang melarang anaknya memegang pisau tajam atau bermain di jalan raya demi keselamatannya, Allah menetapkan larangan dan perintah demi menjaga lima hal pokok dalam hidup manusia, yaitu agama, akal, harta, nasab, dan kehormatan. Setiap larangan-Nya memiliki hikmah, dan setiap perintah-Nya membawa maslahat. Allah Maha Tahu apa yang baik dan benar, serta Maha Tahu apa yang buruk dan salah.

Dialah sumber mutlak pengetahuan tentang kebaikan dan keburukan, sehingga tidak pantas seorang hamba merasa lebih mengerti tentang mana yang bermanfaat atau merugikan dibandingkan Sang Pencipta. Allah berfirman:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Ayat ini turun dalam konteks perintah berperang di jalan Allah. Saat itu, kaum muslimin di Madinah diperintahkan berperang melawan musuh yang menindas dan menghalangi agama Allah. Secara fitrah, manusia membenci perang karena penuh risiko, luka, dan kehilangan. Namun Allah menjelaskan bahwa perang yang diperintahkan-Nya adalah perang demi keadilan, untuk menegakkan kebenaran dan melindungi agama, bukan agresi. Keadilan itu ditegakkan melalui kekuatan, karena tanpa kekuatan, kebenaran akan diinjak oleh kezaliman.

Banyak contoh lain dalam sejarah, seperti sebagian ulama dan pedagang muslim terdahulu yang hidup sederhana namun penuh keberkahan. Imam Ahmad bin Hanbal misalnya, menolak harta pemberian penguasa karena khawatir tercampur syubhat, meskipun hidup dalam kesulitan. Sebaliknya, ada banyak contoh dalam sejarah, para penguasa yang bergelimang harta namun berakhir hina di hadapan Allah. Perbedaan mereka bukan di jumlah uang, tapi di jalan yang ditempuh untuk mendapatkannya dan cara mempergunakannya.

Maka, jika kita hanya menilai lembaga keuangan syariah dengan tolok ukur laba, kecepatan ekspansi, atau daya saing melawan sistem ribawi, kita sedang menilai ikan dari kemampuan memanjat pohon. Ekonomi syariah berdiri di atas fondasi yang berbeda, yaitu kejujuran, keadilan, keberkahan, niat ibadah, dan upaya kesesuaian dengan prinsip ekonomi syariah. Dan selama prinsip ini dijaga secara kaffah, mungkin hasilnya secara materi tidak selalu spektakuler di mata manusia, tetapi nilainya jauh lebih tinggi di sisi Allah.

Mari terus berjuang bersyariah untuk mencapai keberkahan dari Allah.

sumber foto : canva