Kolom DPS: Media Dakwah dan Kajian Fikih Muamalat
Bertransaksi Sesuai Prinsip Syariah
Artikel ditulis oleh : Bapak Rahman Helmi (Dewan Pengawas Syariah BPRS Barkah Gemadana)
Transaksi yang sesuai syariah adalah transaksi yang memenuhi prinsip tauhid, menjauhi yang diharamkan, dan menjaga keadilan. Dalam Islam, muamalah bukan sekadar soal untung-rugi, tetapi juga amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Pertama, transaksi harus bebas dari hal-hal yang diharamkan, baik dari sisi objek maupun cara. Objek yang diharamkan mencakup bangkai, darah, daging babi, khamr, serta segala yang disembelih untuk selain Allah. Allah berfirman:
"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah..." (QS. Al-Māidah: 3)
Dari sisi cara, setiap akad harus terhindar dari riba, gharar (ketidakjelasan), tadlis (penipuan), ihtikar (penimbunan), bai’ najasy (rekayasa permintaan), dan maysir (judi). Rasulullah ﷺ bersabda:
"Rasulullah melarang jual beli yang mengandung gharar" (HR. Muslim)
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu juga berkata: "Tidak boleh menjual sesuatu yang tidak ada di sisimu" sebagai bentuk pencegahan gharar dan penipuan.
Kedua, akadnya harus sah secara syar’i. Allah berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu" (QS. Al-Māidah: 1)
Setiap akad harus memenuhi rukun dan syaratnya, misalnya akad mudharabah, murabahah, salam, istisna’, ijarah, wadiah, atau qard. Dalam mudharabah, pemilik modal (shahibul māl) memberikan modal kepada pengelola (mudhārib), lalu keuntungan dibagi sesuai kesepakatan, sementara kerugian ditanggung pemilik modal kecuali jika ada kelalaian atau pelanggaran dari pengelola. Sedangkan murabahah adalah jual beli dengan harga pokok ditambah margin yang disepakati, tanpa unsur riba dan dengan kejelasan harga.
Ketiga, pelaksanaannya harus berlandaskan etika Islam. Bisnis yang benar bukan hanya mengejar laba, tapi juga menegakkan kejujuran, amanah, keadilan, dan menjaga hak semua pihak. Allah mengingatkan:
"Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu" (QS. An-Nisā’: 29)
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: "Tidak halal harta seorang Muslim kecuali dengan kerelaan hatinya."
Jika ketiga pilar ini dijaga, bebas dari yang haram, sah secara akad, dan beretika, maka transaksi tersebut insyaAllah sesuai dengan prinsip syariah. Dampaknya bukan hanya pada keberkahan harta, tetapi juga pada keadilan sosial, ketahanan ekonomi, dan terjaganya nilai moral di tengah masyarakat. Inilah tujuan syariah dalam muamalah: menutup pintu kebatilan dan membuka jalan keberkahan. Wallāhu a‘lam.
Sumber Foto : Freepik.com


